ItWorks.id – PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) terus mendorong untuk transformasi digital dengan mengembangkan infrastruktur pembayaran yang tidak hanya andal memproses transaksi, tetapi juga mampu memanfaatkan data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan efisiensi, mendeteksi anomali, dan membuka peluang bisnis baru.
Presiden Direktur Artajasa Haryati Lawidjaja menjelaskan, arah transformasi tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan perusahaan selama 26 tahun dalam membangun konektivitas dan interoperabilitas sistem pembayaran di Indonesia. Kini, perusahaan bergerak dari konsep trusted payment infrastructure menuju trusted intelligent financial infrastructure.
“Transformasi bukan sesuatu yang baru bagi Artajasa. Selama 26 tahun, kami terus berevolusi dan beradaptasi dengan pasar,” ujar Haryati dalam presentasi penjurian TOP Digital Awards 2026 yang digelar secara daring, Selasa (27/10/2026).
Menurut dia, pertumbuhan ekosistem pembayaran digital menghadirkan tantangan yang lebih kompleks. Infrastruktur tidak cukup hanya memiliki kapasitas besar dan ketersediaan layanan tinggi, tetapi juga harus mampu mengelola transaksi secara aman, efisien, dan produktif.
Karena itu, Artajasa mengembangkan pendekatan yang menggabungkan kepercayaan, kecerdasan, dan konektivitas. Ketiganya menjadi fondasi perusahaan untuk mendukung industri jasa keuangan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital global.
“Ketika ekosistem semakin kompleks, tantangannya bukan hanya menambah kapasitas infrastruktur, tetapi juga bagaimana mengelola semuanya secara lebih produktif, efisien, dan aman,” kata Haryati.
Hadir mendampingi Jaryati dalam penjurian kali ini, Sandy Surya Nugraha menjabat Senior Vice President People and Corporate Affair, Ika Kartika Manoppo selaku Vice President Corporate Secretary, dan Dimas Mulyawan sebagai Manager Corporate Communication.
Dari ATM hingga Pembayaran Lintas Negara
Artajasa berdiri pada 10 Februari 2000 dan mengawali kiprahnya dengan mengoperasikan layanan ATM Link. Pada 2002, perusahaan menjadi institusi nonbank pertama yang memiliki rekening Real-Time Gross Settlement (RTGS) di Bank Indonesia sekaligus mengoperasikan layanan ATM Bersama.
Perjalanan berikutnya ditandai dengan pengembangan layanan transfer antarbank secara daring dan waktu nyata pada 2004. Pada 2008, Artajasa turut menjadi pelopor penyusunan standar spesifikasi chip kartu debit dan ATM di industri perbankan.
Seiring berkembangnya sistem pembayaran, perusahaan memperluas peran dari penghubung transaksi menjadi penyedia infrastruktur interoperabilitas. Pada 2013, Artajasa mendukung interkoneksi layanan transfer dana antar-switching. Kemudian, pada 2019, perusahaan ditunjuk sebagai lembaga switching QRIS.
Pengembangan berlanjut melalui layanan tarik tunai tanpa kartu antarbank di jaringan ATM Bersama pada 2022, serta dukungan terhadap implementasi BI-FAST melalui layanan Joint Interface Processor (BIP).
Di ranah pembayaran lintas negara, Artajasa mengimplementasikan layanan QRIS antarnegara di Thailand pada 2022, kemudian Malaysia dan Singapura pada 2023. Pada 2025, cakupannya diperluas ke Jepang, sebelum pada 2026 perusahaan mengimplementasikan layanan QRIS antarnegara di Korea Selatan dan China.
Pada 2025, Artajasa juga memperoleh lisensi Bank Indonesia untuk mengembangkan layanan Kartu Kredit Indonesia (KKI). Sementara itu, entitas perusahaan, Nusacita, memperoleh izin Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) kategori 1 dari Bank Indonesia.
Perkembangan tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan industri. Jika pada awalnya fokus utama adalah memastikan transaksi dapat dilakukan, kini tantangannya mencakup konektivitas lintas institusi, integrasi berbagai kanal pembayaran, keamanan, serta pengelolaan transaksi lintas negara.
Tangani Transaksi Besar dengan Layanan Andal
Di tengah peningkatan transaksi digital, keandalan infrastruktur menjadi salah satu fokus Artajasa. Dalam materi penjurian, perusahaan menyampaikan jaminan ketersediaan layanan sebesar 99,9%, dengan layanan QRIS dan transaksi online banking yang dirancang berjalan tanpa gangguan atau zero downtime.
Artajasa juga mencatat skor keamanan 97 dari 100 berdasarkan penilaian lembaga independen global. Dari sisi pangsa transaksi, perusahaan menyebut mengelola sekitar 33% transaksi QRIS dan 59% transaksi transfer antarbank.
Skala ekosistem yang dilayani turut mencerminkan peran infrastruktur tersebut. Artajasa menyampaikan telah terhubung dengan lebih dari 400 institusi, didukung kapabilitas jaringan lebih dari 80.000 ATM, serta melayani lebih dari 47 juta merchant QRIS.
Sementara itu, pertumbuhan pembayaran digital nasional terus meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur yang stabil dan dapat diperluas kapasitasnya. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam presentasi, volume transaksi QRIS pada kuartal II-2026 mencapai 16,07 miliar transaksi, tumbuh 36,88% secara tahunan (year-on-year). Jumlah pengguna QRIS tercatat 69,3 juta.
Untuk transaksi QRIS lintas negara, materi Artajasa mencatat hingga Agustus 2026 terdapat 17,8 juta transaksi inbound dan 5 juta transaksi outbound. Transaksi inbound merupakan transaksi pengunjung asing di Indonesia, sedangkan outbound merupakan transaksi pengguna Indonesia di negara mitra.
Menurut Haryati, pertumbuhan dan perluasan konektivitas tersebut menuntut perusahaan untuk terus mengantisipasi kebutuhan kapasitas, menjaga keamanan, dan memperkuat kemampuan mengelola pola transaksi yang semakin beragam.
AI Percepat Pekerjaan dan Deteksi Anomali
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Artajasa mengembangkan pemanfaatan otomatisasi, data, dan AI dalam proses operasional maupun inovasi layanan.
Pada sisi otomatisasi, perusahaan menerapkan sistem untuk pekerjaan berulang, termasuk pemeriksaan rutin, rekonsiliasi, dan penyusunan laporan. Penerapan ini diklaim mampu memangkas waktu operasional dan kesalahan lebih dari 90%.
Artajasa juga mengembangkan pemanfaatan AI untuk mempercepat pencarian informasi dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Perusahaan menyebut proses menghasilkan insight dapat berlangsung lebih dari 90% lebih cepat dibandingkan metode sebelumnya.
Salah satu penerapannya adalah penyusunan laporan audit. Jika sebelumnya proses tersebut dapat memakan waktu hingga sekitar satu minggu karena banyak tahapan manual dan berisiko menimbulkan duplikasi data, otomatisasi memungkinkan draf laporan disiapkan dalam hitungan menit. Dengan demikian, auditor dapat lebih berfokus pada analisis risiko dan rekomendasi perbaikan.
Artajasa juga telah mengembangkan lebih dari 20 aplikasi internal berbasis AI. “Aplikasi itu menggunakan satu sistem akses melalui single sign-on dan ditempatkan di server perusahaan untuk menjaga kendali atas data internal,” terangnya.
Di bidang keamanan transaksi, Artajasa mengembangkan cross-bank fraud intelligence untuk membantu mendeteksi pola transaksi mencurigakan, termasuk indikasi penipuan dan penggunaan rekening penampung dana ilegal atau mule accounts.
Sebagai penyedia infrastruktur switching, Artajasa berperan sebagai lapisan pertahanan tambahan. Ketika menemukan transaksi yang terindikasi anomali, perusahaan dapat menyampaikan pemberitahuan kepada bank mitra untuk diverifikasi. Tindakan lanjutan terhadap transaksi atau rekening dilakukan sesuai kewenangan dan konfirmasi pihak penyelenggara jasa pembayaran terkait.
Selain keamanan, data transaksi juga berpotensi digunakan untuk membantu mitra memahami pola bisnis, mengidentifikasi peluang pertumbuhan merchant, serta mendukung pengambilan keputusan kredit melalui mitra. Artajasa turut mengembangkan standardisasi API pembayaran dan proses onboarding agar integrasi layanan bagi bank dan perusahaan teknologi finansial menjadi lebih sederhana.
Menciptakan Peluang dari Transaksi Berikutnya
Bagi Artajasa, transformasi menuju infrastruktur keuangan yang cerdas bukan semata-mata persoalan menerapkan teknologi baru. Tujuannya adalah membuat ekosistem pembayaran yang semakin terhubung mampu menghasilkan manfaat lebih besar bagi seluruh pelaku industri.
Haryati menekankan, pertumbuhan transaksi digital seharusnya tidak otomatis menambah kompleksitas bagi bank, perusahaan teknologi finansial, maupun merchant. Sebaliknya, data dan kecerdasan yang dihasilkan dari ekosistem tersebut perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi serta membuka kesempatan bisnis.
Gagasan itu terangkum dalam arah strategis Artajasa: transaksi berikutnya dalam skala miliaran tidak seharusnya menciptakan miliaran kerumitan baru, melainkan miliaran peluang baru.
Melalui penguatan konektivitas, keandalan operasional, keamanan, serta pemanfaatan data dan AI, Artajasa menargetkan infrastruktur pembayaran yang bukan hanya mampu mengikuti pertumbuhan ekonomi digital, tetapi juga membantu mitra industri mengoptimalkan peluang yang muncul dari pertumbuhan tersebut.














