Jakarta, Itech- Kini, berbagai kasus cybercrime sudah mulai masuk ke tahap nyata dimana pelaku berusaha untuk mendapatkan uang, menghilangkan jejak, dan masuk ke hal-hal yang tidak diperkirakan. Sebelumnya para penjahat cyber melakukan kegiatan mata-mata, memanipulasi atau mengeksploitasi informasi, memblokir akses sistem organisasi, dan masih banyak lagi.
Menyadari transformasi digital yang dilakukan oleh berbagai industri di Indonesia, khususnya perbankan, Microsoft menghadirkan perlindungan tingkat lanjut berupa Enterprise Mobility + Security (EMS). EMS menyediakan solusi keamanan berbasis identitas yang membawa pendekatan menyeluruh dalam menjawab tantangan keamanan di era mobile first, cloud first.
Menurut Pravina Halim, Enterprise Mobility + Security Product Marketing Manager, Microsoft Indonesia mengatakan, EMS merupakan sistem keamanan tingkat lanjut yang mampu mengidentifikasi kehadiran aksi cybercrime secara mobile sebelum aksi tersebut menimbulkan kerusakan atau membawa kerugian bagi perusahaan, sehingga akan menjadi penjaga pintu terdepan bagi barisan teknologi perusahaan.
Diketahui, Sistem keamanan merupakan kunci penting dalam mendukung transformasi digital dan gaya kerja mobile saat ini. Menurut data HP tahun 2014, 70% dari 10 perangkat yang paling umum digunakan memiliki kerentanan serius dalam hal pelanggaran data. Tantangan ini diperparah dengan jumlah kasus cybercrime yang mengalami peningkatan cukup signifikan setiap tahunnya.
Di Indonesia pada tahun 2015, jumlah kasus cybercrime di Indonesia meningkat hingga 389% dari tahun 2014. Sementara menurut data Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Indonesia (ID-SIRTII), sebanyak 90 juta serangan siber terjadi di Indonesia selama Januari hingga akhir Juni 2016. Industri perbankan pun menjadi salah satu industri yang paling rentan terhadap serangan cybercrime karena industri ini tengah megoptimalkan layanan digital mereka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
“Industri perbankan memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital sebuah negara. Sayangnya, bahkan ketika perusahaan telah berinvestasi besar pada keamanan TI sebagai bagian dari transformasi digital, perusahaan masih sering terganggu oleh cybercrime. Oleh sebab itu, perusahaan perbankan perlu meninjau kembali teknologi mereka saat ini untuk memastikan adanya perlindungan tingkat lanjut bagi para pelanggan mereka,” tutur Kirby Chong, Security Chief Information Officer, PT Visionet data Internasional. (red/ju)














