Mengusung aplikasi Mining Eyes sebagai solusi digital unggulan untuk pengawasan langsung jarak jauh di industri tambang, TechConnect terpilih sebagai Finalis ajang TOP Digital Award Tahun 2024.
TechConnect adalah perusahaan teknologi berbasis di Indonesia yang beroperasi secara global dengan berbagai pilar bisnis mulai dari layanan keuangan yang didukung secara digital hingga energi dan sumber daya, dari ekuitas swasta hingga konsumen dan gaya hidup.
TOP Digital Awards adalah kegiatan Pembelajaran Bersama sekaligus Pemberian Penghargaan tahunan terbesar tingkat nasional yang diberikan kepada instansi atau korporasi dari seluruh Indonesia. Kegiatan tahunan ini diselenggarakan Majalah It Works sejak tahun 2016 bekerja sama dengan sejumlah asosiasi, lembaga konsultan, serta pakar, di bidang Teknologi Informatika (TI) terkemuka di Tanah Air.
Asep M Taufik, Head of IT Infrastructure and Operation TechConnect bersama tim telah mengikuti sesi Wawancara Penjurian TOP Digital Award Tahun 2024, secara online, Senin (18/11/2024). Bertindak selaku dewan juri, yaitu Dwinda Ruslan (Yayasan Pengembangan Keuangan Mikro/PAKEM), Subandi (Praktisi IT), Jonathan Prabowo (BRIN), dan Tesar Sandikapura (IDIEC).
Ia memaparkan salah satu inovasi dan digitalisasi, melalui penerapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendeteksi potensi bahaya dan peringatan dini pekerja tambang, yaitu Mining Eyes.
“Inovasi yang diberi nama Mining Eyes dirancang dengan tujuan menerapkan pengawasan langsung jarak jauh untuk meminimalkan kontak fisik antara pekerja dan bahaya yang ada di area pit,” tuturnya kepada dewan juri.
Asep mengungkapkan latar belakang dibuatnya aplikasi tersebut sekitar tiga tahun yang lalu, “Seiring makin bertambahnya para pekerja di pertambangan yang dikelola oleh perusahaan lain yang masuk di Sinar Mas Grup, ternyata angka kecelakaan kerja juga meningkat. Manajemen dan kami sebagai tim IT, men-develop teknologi yang dapat melakukan sistem pengawasan berjarak yang sistematis untuk mengurangi angka kecelakaan.”
Maka terciptalah Mining Eyes untuk pengawasan jarak jauh menggunakan teknologi CCTV serta telah diintegrasikan dengan mining analytic dengan penggunaan AI. Teknologi ini dapat memonitor dan melaporkan pergerakan manusia dan unit alat berat di tambang.
“Sehingga menghasilkan operasi yang lebih produktif dan lebih aman karena kurangnya potensi bahaya atas interaksi manusia langsung dengan alat berat yang beroperasi atau berada di area yang memiliki risiko tinggi,” kata Asep.
Manfaat Mining Eyes
Menurut Asep, sedikitnya ada empat manfaat yang diperoleh dari penggunaan Mining Eyes. Pertama, Dust Depression and Water Ponding, memantau kondisi debu dan genangan air di semua area pertambangan.
Kedua, Fleet Verification, memastikan kesesuaian posisi armada (alat berat), jumlah armada dan pergerakannya hingga meningkatkan koordinasi antara pengawas dengan jumlah yang terbatas. Dengan sistem ini, yang sebelumnya setiap satu alat berat diawasi oleh satu pengawas kini lebih efisien karena satu pengawas bisa mengawasi dua hingga tiga alat erat.
Ketiga, Safety Inspection Monitoring,memungkinkan intervensi proaktif, memastikan kepatuhan pekerja kepada protokol keselamatan, dan menghindari potensi perilaku tidak aman. “Sistem inspeksi misalnya membantu para pengawas safety melihat para pekerjanya, apakah compliance terhadap aturan safety seperti memakai jaket dan seterusnya,” tutur Asep.
Terakhir, High Risk and Red Zone Monitoring,pengawasan CCTV berfokus pada pemantauan ketat untuk area berisiko tinggi, untuk menghindari adanya kendaraan atau orang yang mendekati area yang high risk dan berkategori red zone. Itu berkat dukungan kamera berteknologi dengan jangkauan pengawasan hingga 1 km. Juga dapat merekam secara jelas di siang hari maupun malam hari.
Dampaknya Terhadap Bisnis
Lebih lanjut, kepada dewan juri, Asep mengutarakan dampak yang didapat bisnis dari menggunakan sistem Mining Eyes.
“Perusahaan dapat lebih optimal dan efektif dari asoek sumber daya manusia. Sekarang jumlah manpower, seperti pengawas dan safety, lebih sedikit tapi kerja lebih efektif karena dengan jumlah yang terbatas, bisa melakukan pekerjaan pendukung lainnya.
Dengan berkurangnya jumlah manpower, lanjut Asep, jumlah cost atau biaya yang dikeluarkan pun dapat ditekan jika terjadi kecelakaan kerja.
Keamanan IT
Dalam kesempatan yang sama, Rady Rafly selaku Head of IT Businnes Partner and Change Management, menjelaskan bahwa TechConnect menyadari di tengah masifnya digitalisasi, ada ancaman serangan siber mengintai.
Sebab itu, pihaknya terus mempersiapkan segala bentuk instrumen keamanan siber, baik mining maupun non mining. Dengan tiga fokus area yang menjadi perhatian, yakni People, Technology dan Process.
“Di area People, kami akan terus compliance terhadap regulasi. Kami menyelenggarakan training, dan menerapkan protocol best practice bagi employee dan mitra-mitra kami,” ujar Rady.
Masih menurut Rady, di area Technology, Techconnect memiliki sistem keamanan berlapis, mulai dari perimeter security, network, endpoint, application hingga data security. Bahkan. sistem keamanan yang telah dibangun dapat bekerja selama 24 jam dan mampu mendeteksi serangan.
“Berikutnya dari sisi teknologi, kami perhatikan juga semua layer teknologi, mulai dari database, storage, network, dan aplikasinya. Kami siapkan cyber security operation center untuk mengawasi aset-aset kritikal kami 24 jam sehari. Sehingga dapat mendeteksi dan merespon serangan dari hacker,”tegasnya.
“Pada sisi Process, kami lakukan security governance, mapping terhadap best practice security. Kami lakukan risk assesment. Dan terakhir, kami memonitor, mendeteksi dan merespon cyberattack,” tutupnya.
Editor: Teguh IS.














