Dalam tata kelola TI (teknologi informasi), PT Pan Brothers, Tbk., sangat mementingkan prinsip keamanan siber. Sebab, saat ini, keamanan siber bukan hanya penting untuk perusahaan sektor finansial.
“Saat ini, hacker dan pelaku kejahatan siber, mengincar semua perusahaan, bukan?” kata General Manager Teknologi Informasi Pan Brothers, Anton Suwoto, dalam paparan untuk Dewan Juri Top Digital Awards 2025 (5/11/2025).
Anton mengatakan bahwa, bagi Pan Brothers sebagai produsen garmen, ada data terpenting yang harus benar-benar aman dari risiko serangan siber. Contoh untuk hal itu adalah data tentang desain baju yang akan dikeluarkan dalam enam bulan mendatang.
“Data tersebut merupakan hak intelektual dari pembeli. Maka, kami tentu harus menjaga keamanan data tersebut,” ia menjelaskan.
Sejak tahun 2024, Pan Brothers semakin mengintensifkan implementasi keamanan siber. Sebagai contoh hal itu, pentest (penetration test) untuk keamanan siber selalu digelar tiap bulan. “Dari situ, tentu ada report hasil tes itu. Lalu, kami akan melakukan review,” Anton menjelaskan lagi.
Kini pun, Pan Brother terus mengintensifkan transformasi ke cloud technology. Anton menjelaskan penyebab hal itu.
Itu karena Pan Brothers bukan perusahaan TI dan harus fokus ke core business-nya. “Kami bukan perusahaan TI, maka tak harus punya sistem TI yang terlalu kompleks. Dengan transformasi ke cloud, kami bisa lebih fokus ke bisnis inti,” kata dia.
Di Pan Brothers, GM TI bertanggung jawab ke seorang direktur TI, yakni Anne Patricia Sutanto. “Nah, beliau pun menjabat sebagai wakil CEO. Maka dukungan manajemen puncak ke TI, sangat bagus.”
Dalam kesempatan yang sama, Deputi General Manager TI Pan Brothers, Everit Frisiandi, menjelaskan beberapa hal tentang pengelolaan TI di perusahaan tersebut. Antara lain, ia mengatakan bahwa perusahaan tersebut banyak mengembangkan aplikasi secara inhouse.
“Tujuan hal tersebut adalah memudahkan kami untuk customing dan integrasi antar-aplikasi,” ia menjelaskan lagi.
Aplikasi inhouse itu menjadi fungsi pelengkap bagi SAP. “Bisa kami katakan bahwa tak semua fungsi di SAP memenuhi kebutuhan kami. Maka kami membuat aplikasi itu secara inhouse.”
Bila aplikasi tersebut tak dirancang inhouse, maka membutuhkan beberapa vendor. Integrasi antar-aplikasi itu bisa sulit. Hingga, rancangan secara inhouse itu menjadi suatu solusi.
“Dengan flow sistem aplikasi yang kami sediakan, integrasi aplikasi itu bisa lebih mudah,” papar Everit.
Kemudian, untuk memudahkan para pengguna aplikasi itu, sosialisasi penggunaan pun dilakukan secara intensif.














