ItWorks.id – PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) terus mempercepat transformasi digital sebagai fondasi baru pasca-merger Angkasa Pura I dan II. Konsolidasi dua entitas besar ini telah dilakukan penataan ulang sistem dan arsitektur, integrasi proses, serta integrasi data.\
Langkah ini menjadi titik krusial bagi perusahaan yang kini mengelola jaringan bandara terbesar di Asia Tenggara. Pemanfaatan teknologi digital atau transformasi digital menjadi enabler yang kian berperan besar untuk keberlanjutan bisnis dan layanan semjumlah bandara yang ditangani Injourney.
Technology and Digitalization Group Head InJourney Airports, Wahyu Cahyadi, menegaskan bahwa digitalisasi perusahaan bukan hanya soal modernisasi teknologi, tetapi juga aspek pendukung lainnya. Sistem aplikasi, jaringan infrastruktur, kemampuan SDM, It security dan aspek terkait lainnya. “Kami ingin membawa konsep next generation IT dengan tujuan memaksimalkan pengalaman penumpang (passenger experience) serta efektivitas operasional di bandara yang kami kelola,” ujarnya dalam wawancara penjurian TOP Digital Awards 2025 secara daring, Rabu (19/11/2025).
Hadir dalam kesempatan tersebut, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi, Ferry Kusnowo, IT Governance dan data Management Division Head, Mochamad Ridwan Rifai serta Tim IT pendukung lainnya.
Masih menurut Wahyu, transformasi digital yang dijalankan berfokus pada perubahan cara kerja, bukan sekadar pengadaan aplikasi. “Implementasi IT tidak hanya memberikan solusi, tetapi mengubah cara bekerja. Contohnya SAP: kami bukan hanya membeli software, tapi membeli prosesnya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa harmonisasi sistem antara dua perusahaan lama memang menjadi pekerjaan besar. “Konsolidasi dan baseline architecture perlu kami selaraskan antara AP I dan AP II,” bebernya.
Sebagai operator 37 bandara, perusahaan menghadapi skala operasional yang jauh lebih besar dibanding penyedia layanan serupa di kawasan. “Kami mengelola 37 bandara, tetapi tentu dengan personel yang tidak sebanyak jumlah bandara tersebut. Struktur organisasi memungkinkan efisiensi dan kolaborasi dengan mitra IT,” jelasnya.
Karena itu, standardisasi proses di semua bandara menjadi esensi transformasi. “Kita harus pastikan proses bisnis tiap unit terintegrasi dan tidak berjalan secara silo (terpisah),” tambahnya.
Di titik inilah SAP menjadi inti dari rekayasa ulang sistem perusahaan. Sistem ERP (Enterprise Resource Planning) tersebut tidak hanya mencatat transaksi, tetapi menyatukan ribuan proses operasional mulai dari keuangan, logistik, hingga pengelolaan aset. “Ini adalah cara kerja baru, bukan sekadar teknologi baru,” tegas Wahyu.
Dengan satu platform terpadu, prosedur lama yang tumpang tindih dibersihkan, dan disiplin proses diterapkan merata di seluruh entitas bandara.
Transformasi Digital
Melanjutkan restrukturisasi sistem, InJourney Airports menurunkan Rencana Jangka Panjang perusahaan ke dalam empat pilar transformasi digital: customer experience, operation excellence, talent empowerment, dan insight-driven performance. “Kami menurunkan Rencana Jangka Panjang perusahaan menjadi empat pilar utama. Semua pengembangan IT harus mengacu pada empat pilar ini,” jelas Wahyu.
Dari konsep ini, seluruh proses pelayanan penumpang dari check-in hingga boarding dibangun dalam satu alur terintegrasi. Di sisi lain, perusahaan mengembangkan airport operations center berbasis real-time analytics, yang memungkinkan pengambilan keputusan lebih cepat dan presisi pada situasi operasional.
“Kami pisahkan antara AirPort dan Enterprise karena berbeda dengan perusahaan lain. Tujuannya memastikan bisnis proses tiap unit terintegrasi dan tidak berjalan secara silo,” paparnya.
Transformasi ini juga menyentuh layanan komersial bandara, integrasi tenant, ground handling, hingga manajemen infrastruktur. Namun bagi Wahyu, teknologi hanya akan berfungsi jika diikuti perubahan pola pikir. “Ini penting memastikan setiap solusi IT hadir dalam proses bisnis. Jika tidak, aplikasi hanya menjadi aset tanpa manfaat, dan itu yang kami hindari,” katanya.
Karena itu, perusahaan memperkuat aspek SDM, termasuk membangun unit khusus cybersecurity dan data management untuk meningkatkan resiliensi digital.
InJourney Airports juga mulai mengembangkan konsep super ecosystem yang menghubungkan bandara dengan sektor lain: destinasi wisata, hotel, retail, hingga ground handling. Bagi Wahyu, penguatan ekosistem ini menjadi pembeda karena bandara berperan sebagai pintu masuk dalam rantai industri pariwisata dan ekonomi nasional.
Target Kinerja
Saat ini, InJourney Airports menangani lebih dari 100 juta penumpang per tahun. Dengan proyeksi pertumbuhan yang agresif, kebutuhan akan platform digital yang andal menjadi semakin mendesak. “Pemerintah melalui Pak Presiden menargetkan pada 2029, bandara di Indonesia dapat membawa hingga 250 juta penumpang. Saat ini, kita berada pada angka sekitar 100 juta penumpang per tahun,” jelas Wahyu.
Menurutnya, tanpa digitalisasi, target itu mustahil dicapai tanpa mengorbankan kualitas layanan. Perusahaan juga ingin memastikan bahwa transformasi yang dilakukan tetap membawa identitas Indonesia.
“Kami ingin membawanya ke dalam pengelolaan bandara berkelas dunia. Setiap bandara bisa memiliki visi kelas dunia, tapi Indonesian Hospitality adalah diferensiasi yang kami bawa,” ungkapnya. Nilai ini diterjemahkan dalam desain layanan yang lebih hangat, responsif, serta terintegrasi antara front-end dan back-end.
Di akhir sesi, Wahyu menegaskan arah besar perjalanan digital perusahaan. “Tentu kita ingin menjadi operator bandara kelas dunia. Untuk mencapai itu, IT menjadi bagian penting memastikan bandara berjalan dengan standar dan proses kerja yang dijalankan dengan kolaborasi yang membutuhkan komitmen dan pembaruan. Dan itu konsisten,” tegasnya.
Dengan restrukturisasi sistem, modernisasi proses, serta pematangan budaya digital di seluruh lini, InJourney Airports kini berada pada fase krusial untuk menjadikan diri sebagai salah satu pemain utama dalam masa depan industri aviasi Indonesia. (Abdullah Suntani














