ItWorks.id- PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (PT JIEP), pioneer pengelola kawasan industri pertama di Indonesia, hadirkan inovasi SIMA JIEP, sistem manajemen aset berbasis teknologi digital yang merevolusi cara perusahaan mengelola lahan, gedung, dan infrastruktur bernilai triliunan rupiah secara efektif.
JIEP mengelola kawasan industri strategis seluas 433 hektare di Jakarta yang kian berkembang dewasa ini. Wilayah otoritas yang dikelola tidak hanya strategis secara fisik, seperti akses infrastruktur jalan tol, jalur kereta api, dan lainnya, namun kedekatannya dengan pusat bisnis Jakarta, juga menjadi keunggulan tersendiri yang memiliki peran besar dalam mewujudkan kelancaran logistik, terutama di Jakarta dan kota-kota sekitar.
Sejak berdiri pada 1973, PT JIEP telah menjadi motor penggerak ekonomi Kawasan Ibu Kota Lebih dari 50 tahun pengalaman, perusahaan ini memiliki jaringan luas dengan mitra bisnis domestik dan internasional.
Memasuki era revolusi industry keempat (Industri 4.0), perusahaan pengelola kawasan industri, juga dituntut melakukan transformasi. Terutama untuk mendukung sistem pengelolaan aset dengan lebih efisien, aman, berbasis data. PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (PT JIEP), membuktikan hal ini melalui inovasi SIMA JIEP, sistem manajemen aset yang merevolusi cara perusahaan mengelola lahan, gedung, dan infrastruktur senilai triliunan rupiah.
Kini, melalui transformasi digital, PT JIEP membuktikan bahwa inovasi teknologi bukan sekadar modernisasi, tapi strategi nyata untuk meningkatkan nilai aset, agilitas komersial, dan keamanan kawasan industri.
Revolusi Pengelolaan Aset Ke Sistem Digital
Dharma Satriadi, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT JIEP, mengatakan sebelum hadirnya inovasi SIMA, pengelolaan aset PT JIEP masih manual, terdesentralisasi, dan rentan kesalahan. Data tersebar di berbagai unit—Legal, Komersial, dan Pengelolaan Kawasan—yang membuat tim kesulitan memperoleh informasi akurat secara real-time. Kondisi ini menimbulkan risiko klaim eksternal, terutama dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, serta hambatan komersial karena tim Sales kesulitan mengetahui ketersediaan lahan atau bangunan untuk tenant baru.
“Sebelum digitalisasi, kami menghadapi tantangan besar dalam memantau aset. Kini, dengan SIMA, kami memiliki satu sumber kebenaran data, mulai dari legal, komersial, hingga spasial,” jelas Dharma saat wawancara penjurian di TOP Digital Awards 2025 yang digelar Majalah IT Works secara daring pada Kamis (20/11)
Sistem ini menggunakan backend Laravel, frontend VueJs, dan database MySQL, memungkinkan digitalisasi seluruh aset, manajemen dokumen legal, visualisasi 3D lokasi dan batas aset, serta pelacakan siklus hidup aset. Sebagai contoh, status renovasi gedung kini bisa dipantau secara real-time, sedangkan dokumen legal seperti sertifikat atau IMB tersimpan aman dan mudah diakses tim Legal.
Dampaknya terlihat nyata. Total aset perusahaan melonjak 541% dari Rp1T menjadi Rp6,5T, ekuitas naik 1.444%, dan kas meningkat dari Rp281M menjadi Rp575M. “Ini bukan sekadar angka revaluasi. Kenaikan kas menunjukkan pertumbuhan riil perusahaan tanpa menambah utang,” ujar Dharma.
Transformasi ini juga membawa perubahan budaya kerja. Tim yang sebelumnya mengandalkan proses manual kini belajar bekerja dengan data-driven mindset, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Sentralisasi Data Spasial
Dharma mengungkapkan Keunggulan utama SIMA terletak pada integrasi data tabular dan spasial. Tidak hanya mengetahui “apa” aset yang dimiliki, tapi juga “di mana” secara presisi. Sistem ini memungkinkan manajemen memvisualisasikan batas lahan, ukuran, status okupansi, dan siklus hidup aset dalam satu platform terpadu.
Contohnya, tim Legal dapat meninjau dokumen pendukung saat terjadi sengketa, sementara tim Sales dapat melihat ketersediaan lahan secara real-time untuk mempercepat penawaran. Selain itu, SIMA menyimpan riwayat perbaikan aset yang memungkinkan evaluasi efisiensi pemeliharaan. Jika sebuah aset sering diperbaiki dengan biaya tinggi, manajemen dapat memutuskan untuk membangun ulang agar lebih efisien.“Dengan peta 3D, tim Legal dapat meninjau dokumen pendukung saat terjadi sengketa, sedangkan tim Sales dapat melihat real-time occupancy untuk mempercepat penawaran kepada calon tenant,” kata Dharma Satriadi.
Integrasi ini juga, sambung Dharma, mendukung pengembangan data warehouse dan analitik big data. Data yang bersih dan terpusat membuka peluang untuk pengambilan keputusan berbasis prediksi, mulai dari mitigasi risiko banjir, kebakaran, hingga pengoptimalan okupansi dan pendapatan sewa.”Misalnya, riwayat genangan banjir di beberapa titik tertentu dapat digunakan untuk membuat model prediksi dan menentukan strategi penanganan lebih cepat di masa depan,” tutur dia.
Digitalisasi Katalis Agilitas Komersial
Dharma mengatakan Implementasi SIMA menghadirkan dampak signifikan bagi agilitas komersial PT JIEP. Tim Sales kini bisa mengakses data ketersediaan aset secara real-time, sehingga mempercepat proses negosiasi dengan tenant.“Kecepatan akses informasi ini membuat tim Sales lebih percaya diri dalam menanggapi calon penyewa. Transformasi digital bukan sekadar teknologi, tapi pengubah cara kami berbisnis,” ujar Dharma.
Selain itu, sistem mempermudah manajemen mengelola aset habis pakai, menyusun rekomendasi penghapusan atau lelang, serta mengevaluasi frekuensi perbaikan aset untuk efisiensi biaya. Semua proses yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari kini dapat dilakukan dalam hitungan menit, tanpa kehilangan akurasi data.
SIMA juga meningkatkan kepuasan tenant. Keluhan dapat dilaporkan secara online, tidak perlu datang langsung, dan segera diteruskan ke tim teknis terkait. Hal ini mempersingkat waktu respon dan meningkatkan kepercayaan tenant terhadap pengelolaan kawasan. “Selain operasional, SIMA membantu manajemen melakukan revaluasi aset dengan akurat. Misalnya, setelah setoran modal tambahan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Danareksa, total aset meningkat dari Rp1T menjadi hampir Rp6T, bersamaan dengan kenaikan kas yang signifikan, tanpa menambah utang. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi juga mendukung transparansi keuangan dan tata kelola yang seha,” jelas Dharma.
Menuju Smart & Connected Industrial Estate
Dharma menambahkan bahwa transformasi digital PT JIEP tidak berhenti di SIMA. Perusahaan juga telah merancang roadmap transformasi hingga tahun 2026 yang mencakup:
• 2025: Peluncuran Tenant Apps, platform digital bagi penyewa untuk melaporkan masalah, memesan layanan, dan mengakses informasi kawasan secara instan.
• 2026: Implementasi digital twin dan IoT, mewujudkan smart industrial estate yang terhubung, responsif, dan berbasis data prediktif.
“Kami membangun fondasi digital tidak hanya untuk efisiensi internal, tapi juga untuk menjadikan kawasan industri Pulogadung lebih responsif terhadap risiko seperti banjir, kebakaran, dan sengketa aset. Ini adalah langkah strategis bagi PT JIEP sebagai BUMD yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan seluruh stakeholder,” Imbuh dia.
Dukungan keamanan TI menjadi kunci keberhasilan ini. PT JIEP memiliki CSIRT yang terdaftar di BSSN, memanfaatkan SIEM dan Next Generation Firewall, serta rutin mengikuti simulasi siber nasional. Dengan struktur formal CSIRT dan teknologi proteksi memadai, perusahaan memastikan keamanan digital sebagai fondasi transformasi cerdas.
“Inovasi ini juga mempersiapkan PT JIEP menjadi smart industrial estate, dengan data terpusat yang dapat digunakan untuk prediksi risiko banjir melalui CCTV, evaluasi fungsi hidran kebakaran, dan pemantauan occupancy rate secara real-time. Dengan langkah ini, kawasan industri Pulogadung menjadi lebih aman, efisien, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan bisnis,” pungkasnya. (Abbi Abdul Jabbar Siddik)














