Penulis: Fauzi
PT Sekolah Digital International pemilik platform Indonesia Digital School (INDISCH) mengungkap sejumlah target besar yang tengah dibidiknya. Seperti dikatakan Febby Febrianti, Director PT Sekolah Digital Internasional, INDISCH memiliki visi untuk menjadi perusahaan Platform Pembelajaran Nomor 1 di Indonesia.
“Dan tentunya ada beberapa misi yang kami usung juga, yang pertama Platform Pilihan, yaitu menjadi Platform pilihan pengajar untuk pengajaran di lembaga pendidikan di Indonesia. Kemudian yang kedua sebagai Marketplace Pembelajaran di Indonesia yang mampu memberdayakan UKM Pelatihan dan Training. Dan yang ketiga adalah Menjadi Start-up Unicorn di tahun 2025,” ujar Febby saat sesi Penjurian TOP Digital Awards 2021 yang digelar Majalah It Works secara virtual, (17/11/21).
Febby mengungkap bahwa hadirnya INDISCH diawali karena adanya pragmatisme terhadap problem-problem yang ada saat ini, terutama di area bimbel dan guru private. Di mana pada tahun 2020-2021 beberapa bimbel dan guru les private itu terdampak karena adanya pandemi, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan dari proses pembelajaran yang biasanya mereka lakukan.
“Juga terkait dengan adanya bimbel-bimbel online yang sekarang menggempur, sehingga bimbel konvesional dianggap sudah tidak relevan lagi. Kemudian problem yang kedua itu kami melihat dari sisi instansi dan perusahaan. Di mana instansi dan perusahaan saat ini biasanya memiliki corporate university atau area diklat sendiri. Di mana saat ini belum cukup efektif atau belum optimal dalam implementasi dari e-learning yang ada di sana,” jelas Febby.
Dari kedua permasalahan tersebut, kemudian INDISCH memberikan solusi yang diharapkan bisa menjawab problem-problem yang ada.
Pertama, kata Febby, INDISCH memberikan solusi marketplace untuk semua pelaku di bidang jasa pendidikan dan pelatihan, bimbel, guru private, dan lembaga kursus, di mana mereka bisa menjual event-event pelatihannya ataupun kelas-kelas pelatihannya kepada target-target customer mereka.
Kemudian yang kedua, INDISCH juga bisa digunakan untuk instansi dan perusahaan yang mana mereka memiliki corporate university sehingga mereka tidak perlu membangun lagi video based-learning untuk knowledge management system perusahaan, termasuk mengelola learning path dan juga kelas-kelas virtual di unit diklat dan corporate university yang ada di instansi dan perusahaan.
“Itulah target kami, jadi solusi kami menyasar kedua area ini, yaitu ke Bimbel dan juga ke area instansi dan perusahaan,” tandas Febby seraya mengatakan bahwa cita-cita besarnya dari INDISCH, yaitu menjadi platform pendidikan yang menguasai pasar dari sisi Lembaga Pendidikan di Indonesia.
Target Pengguna & Konten, Valuasi & Model Bisnis
Sekilas penjalanan INDISCH hingga rencananya ke depan dipaparkan Febby dalam presentasinya di hadapan para juri. INDISCH diluncurkan pertama kali pada tahun 2020, menyusul pada tahun 2021 dilanjutkan dengan membangun platform pembelajaran online.
”Di 2022 kami akan mengusung platform pembelajaran dengan jumlah pengguna dan konten terbesar di Indonesia itu goals kami. Dan juga di 2023 itu sudah masuk ke valuasi atau valuation-nya,” kata Febby.
Meski baru diluncurkan pada tahun 2020, INDISCH sendiri sejatinya sudah mulai terbentuk di tahun 2018. Kala itu, kata Febby, INDISCH hanya digunakan untuk pembelajaran online di internal perusahaan. Lalu di tahun 2020, di saat pandemi yang membuat banyak orang harus bekerja dari rumah (WFH), INDISCH pun akhirnya dibangun menjadi pembelajaran online publik yang bisa diakses oleh siapa pun .
“Nah kemudian masuk ke tahun 2021 kami juga membangun marketplace pendidikan yang memungkinkan penggunanya untuk mendirikan pembelajaran komersil secara online. Di mana setiap pelaku pembelajaran itu bisa membuat kelas dan juga menjual dari sisi training-training yang mereka sediakan. Kemudian masih di tahun 2021 juga INDISCH digunakan untuk pembelajaran online di instansi dan perusahaan. Jadi, sudah bisa digunakan di instansi dan perusahaan terutama untuk learning path dalam mekanisme atau dalam ajang people development di perusahaan,” tandasnya.
Sebagai bagian dari upayanya untuk masuk ke valuasi di tahun 2023 seperti telah disebut di atas, pada tahun 2022, Indonesia Digital School membidik target untuk membangun Ads On di INDISCH. “Jadi, memungkinkan semua pengguna INDISCH ini akan bisa memasang iklan di sana,” ujar Febby.
Tidak ketinggalan dalam paparannya juga disebutkaan bahwa sebagai platform INDISCH juga menjalankan beberapa model bisnis, dengan tetap mempertimbangkan penggunaan secara gratis oleh Lembaga Pendidikan, Pengajar, maupun Peserta Pembelajaran. Secara umum ada tiga model bisnis yang dijalankan INDISCH, antara lain:
- Corporate Access: Lembaga Pendidikan atau perusahaan yang ingin mendapatkan extension Video Based learning, dengan domain sendiri (private access), merupakan bagian dari layanan INDISCH.
- Marketplace: Pengajar dan Lembaga dapat menggunakan INDISCH untuk berbisnis Pendidikan, dengan menjual paket pembelajaran di INDISCH, yang dilengkapi dengan payment point dari berbagai penyedia transaksi keuangan.
- Ads on INDISCH: INDISCH Advertisement, sehingga perusahaan, lembaga pendidikan, pelatihan (training) atau siapa pun bisa memasang iklan di INDISCH, dengan target adalah para pengguna INDISCH.














