Reporter: Busthomi
Editor: Teguh IS
Kendati berstatus Bank Perkreditan Rakyat (BPR), namun BPR Bank Bapas 69 (Perseroda) Magelang tidak mau ketinggalan. Bank ini terus konsisten melakukan proses transformasi dan inovasi digital sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan ke nasabahnya.
Terlebih di masa pandemi Covid-19, bank yang sahamnya dimiliki Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini, telah memiliki sejumlah produk TI sebagai penunjang proses bisnis dan tengah mengembangkan inovasi-inovasi TI lainnya demi memudahkan kinerja perseroan.
Demikian disampaikan Rohmad Widodo selaku Direktur Utama Bank Bapas 69 Magelang, didampingi Dyah Retno Andiani selaku Direktur Umum dan Kepatuhan Bank Bapas 69 Magelang, serta sejumlah staf TI perusahaan saat Penjurian TOP Digital Awards 2021 yang digelar Majalah IT Works secara virtual, 30/11/2021.
Tata Kelola TI
“Sebagai pedoman arah pengembangan TI perusahaan, kami memiliki Tata Kelola TI yang meliputi strategic alignment, value delivery, risk management, resource management, dan performance measurement,” kata Rohmad kepada dewan juri.
“Strategic alignment maksudnya kami selalu berusaha menyediakan fasilitas untuk menunjang bisnis perusahaan. Lalu, value delivery, diharapkan fasilitas yang disediakan itu mempermudah dan mempercepat kinerja perusahaan dan menyediakan data yang akurat.”
Risk management, lanjut Rohmad, dengan mengembangkan media server yang dibuat menggunakan standar ISO dan DRC di luar wilayah perusahaan. Lalu, resource management dengan memgembangkan fitur aplikasi dan output data selalu bertambah sesuai regulasi dan kebutuhan perusahaan.
“Dan dalam performance measurement itu kami selalu mengevaluasi dan selalu upgrade hardware, software, serta Sumber Daya Manusia-nya,” tambahnya.
Peran TI
Melanjutkan penjelasannya kepada dewan juri, Rohmad mengungkapkan bagi Bank Bapas peran TI sangat penting, “Sebab dengan ditopang sistem digital yang terus di-upgrade itu, membuat bisnis perbankan yang dijalankannya menjadi lebih praktis, akurat, dan aman.”
“Makanya kami sebut peran TI ini sebagai support, enabler, driver, dan transformer. Sebagai support, karena seluruh aktivitas kerja pegawai di perusahaan menggunakan teknologi, dari yang menggunakan corebanking maupun fasilitas aplikasi pendukung yang tidak melalui corebanking,” tutur Rohmad.
Lalu sebagai enabler, TI di BPR ini tengah mengembangkan fitur berbasis web seperti QuickBapas dan FormKita.
“Adapun sebagai transformer, pengembangan QuickBapas ini untuk memudahkan nasabah dan pegawai untuk bertransaksi non tunai melalui pembayaran online, cukup hanya menggunakan aplikasi android. Nasabah juga bisa memantau seluruh data rekening melalui ponselnya dari setiap tempat.
Sedangkan dengan adanya FormKita seluruh pegawai dapat bekerja lebih cepat dan efisien tanpa menjalankan kinerja penuh dengan tatap muka.
Baca: BPR Bangli Fokus Menuju Digitalisasi
Core Banking System
Dalam kesempatan ini juga, Rohmat memaparkan core banking system Bank Bapas 69 sudah menggunakan sejumlah aplikasi untuk menggenjot transaksi perbankan. Dalam core banking ini, menggunakan seluruh data untuk pembukuan, input data pinjaman, input data tabungan & deposito, angsuran & pelunasan, user akses, data laporan, transaksi tunai, transaksi non tunai, dan input data nasabah.
Pertama, aplikasi Desktop, digunakan untuk aktivitas sehari-hari oleh pegawai Bank Bapas 69 untuk mengelola operasional perusahaan menggunakan desktop programme.
“Ini dikembangkan vendor tahun 2007 lalu dan selalu di-upgrade sampai sekarang. Jadi seluruh transaksi, laporan, dan pendataan menggunakan aplikasi tersebut, namun tidak berhenti di sini. Kami berupaya untuk mengembangkan fitur yang berada pada aplikasi tersebut dengan sistem berbasis web dan aplikasi smartphone,” tutur Rohmad.
Kedua, aplikasi Collecting Bapas 69, berbasis android dan menggunakan printer portable. “Berdasarkan proses kerja pegawai yang lebih banyak di lapangan, kami membuat aplikasi untuk memudahkan transaksi secara langsung untuk mengurangi model titip uang yang sangat berisiko terhadap penggelapan uang nasabah,” ungkap Rohmad.
Adapun fasilitas tersebut, sambungnya, sering digunakan di sekolah, pasar dan instansi yang berada di Kabupaten Magelang dan sekitarnya.
Ketiga, aplikasi Otorisasi Bapas 69 yang berbasis android. Selama ini, transaksi di Bank Bapas 69 harus melalui otorisasi persetujuan dari pimpinan sesuai dengan nominal yang ditentukan. “Namun sering kali kondisi pimpinan bank memiliki mobilitas yang tinggi, memanfaatkan aplikasi ini pimpinan dapat memantau dan memberikan otorisasi dari mana saja, hanya melalui smartphone,” kata Rohmad.
Terakhir, aplikasi Wartaq Bapas 69. “Untuk menunjang kinerja pimpinan dan dewan komisaris dalam memantau kondisi keuangan neraca perusahaan, kami membuat aplikasi WartaQ untuk melihat data keseluruhan neraca melalui HP sehingga praktis. Ini mempermudah di saat posisi para pejabat berada di luar kantor,” tutur Rohmad.
Tidak cukup dengan aplikasi itu saja, Bank Bapas 69 pun terus mengembangkan produk-produk TI lainnya untuk memenuhi tuntutan pelayanan di era digital. Sebab inovasi ini membuat perseroan lebih mudah dalam bekerja.
Rohmad mengungkapkan sejumlah aplikasi yang tengah dalam proses pengembangan, “Pertama, QuickBapas berupa aplikasi cek saldo dan pembelian voucher, lalu FormKita yakni aplikasi yang mempermudah pengajuan proses kredit dan tabungan, serta ATM Cardless berupa fasilitas mudah untuk mengambil uang tunai di mesin ATM, tanpa harus ke kasir.
Audit TI
Rohmad menegaskan pihahnya juga sudah melakukan audit terkait TI di bank yang dipimpinnya ini. “Kami telah melakukan audit yang dilakukan pihak eksternal terhadap keseluruhan TI perusahaan. Yaitu tahun 2015 oleh konsultan Veda Praxis dan hasil audit itu, kami melakukan upgrade total untuk pemenuhan standarisasi sesuai ISO.
Sementara audit di tahun 2018, dilakukan Otoritas Jasa Keuangan pusat. Audit ini untuk memastikan keseluruhan kelayakan standar fasilitas dan operasional TI. Hasil audit itu, bagian TI Bank Bapas 69 mendapat report baik karena sudah melakukan standarisasi sesuai ISO.














