Penulis: Busthomi
Editor: Fauzi
PT Pelayanan Listrik Negara Tarakan atau PLN Tarakan (PLNT) memiliki tugas mulia untuk menerangi Indonesia bagian timur. Dalam menjalankan bisnisnya, PLNT menjalankan bisnis penyediaan dan penjualan tenaga listrik yang terintegrasi mulai dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2016 dengan menerapkan tarif regional yang berbeda dari tarif dasar listrik (TDL).
PLN Tarakan sendiri merupakan salah satu anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang berkedudukan di Pulau Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 258-1/010/DIR/2003 tanggal 17 Oktober 2003 dan disahkan berdasarkan Akta Notaris H Haryanto SH, MBA No. 18 tanggal 15 Desember 2003.
Wilayah beroperasinya sendiri, PLNT ini beredar di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara atau sekitar tiga per empat dari wilayah Indonesia. Agar tidak tumpang tindih dengan anak usaha PLN lainnya dalam penjualan listrik, PLNT pun hanya terlibat dalam pengembangan pembangkit listrik dengan skala atau kapasitas kurang dari 100 MW (megawatt) di Kawasan Timur Indonesia.
Hal ini pun sudah disebutkan dalam Visi-Misi PLNT. Dengan Visi-nya, ‘Menjadi Perusahaan Layanan Ketenagalistrikan Terkemuka se-Asia Tenggara serta menjadi pilihan utama pelanggan di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara.’
Adapun untuk Misi-nya adalah, pertama, memberikan nilai tambah yang optimal kepada PLN Group dengan memastikan ketersediaan layanan dan keberlangsungan usaha (securing business sustainibility), optimasi dan efisiensi biaya (optimizing cost efficiency) dan keunggulan kompetensi dalam industri ketenagalistrikan (leading industry capabilities).
Kedua, menjalankan bisnis asset Operator dan Asset Manager sistem ketenagalistrikan yang berkualitas, unggul dan efisien. Ketiga, berpartisipasi dalam pengembangan pembangkit listrik skala <100 MW di Kawasan Timur Indonesia di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara untuk memastikan keandalan pasokan tenaga listrik sekaligus meningkatkan kontribusi laba (increasing profit contribution) untuk PLN Group dengan memanfaatkan potensi pasar eksternal.
Keempat, mengembangkan kompetensi dan profesionalisme Human Capital untuk menjamin kepuasan pelanggan. Dan kelima, mewujudkan citra profesionalitas dalam menunjang pelayanan penyediaan tenaga listrik.
Dan agar bisa menjalankan bisnisnya sesuai dengan target yang ingin dicapai perusahaan, PLNT pun telah melakukan transformasi digital dengan mengembangkan banyak aplikasi-aplikasi teknologi informasi (TI). Bahkan digitalisasi ini dinilai berjalan dengan baik. Soalnya dengan digitalisasi ini telah berdampak positif ke kinerja perusahaan.
Hal ini seperti yang disebutkan oleh Arief Suko Pranoto, Manager Sistem dan Teknologi Informasi PT Pelayanan Listrik Negara Tarakan dalam sesi penjurian TOP Digital Awards 2022 yang digelar Majalah It Works, pada Jumat (14/10/2022) lalu melalui fasilitas Zoom.
Menurut Suko, dalam menjalankan aktivitas usahanya, PLNT menjalankan bisnis operation dan maintenance sector kelistrikan dan pembangkitan di Indonesia Timur.
“Dalam mengembangkan bisnis ini, PLNT melakukan pengelolaan jasa operasi & pemeliharaan pembangkit (KIT), jasa operasi & pemeliharaan transmisi, jasa operasi & pemeliharaan distribusi (YANTEK) serta pelayanan pelanggan (BILLMAN) di Wilayah Indonesia Timur yang mencakup Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, dengan kedudukan kantor pusat PLN Tarakan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur,” jelasnya.
Sementara dari sisi kinerja keuangan, melalui digitalisasi ini telah berdampak positif. Perusahaan pun hingga akhir tahun 2021 lalu sudah berhasil mencatatkan laba sebesar Rp94,26 miliar. Dan hingga pertengahan 2022 itu sebesar Rp94,43 miliar.
Dengan pendapatan di tahun 2021 lalu mencapai Rp1,5 triliun dan di tahun ini sudah menembus hamper Rp1,5 triliun juga. Dengan jumlah asset perusahaan di tahun 2021 lalu sebesar Rp169 miliar.
Solusi IT
Proses transformasi digital sendiri sejatinya kian massif tatkala memasuki pandemic Covid-19. Dilihat dari beberapa aplikasi yang sudah dikembangkan, rata-rata dilakukan sejak tahun 2020. Namun kendati masih awal, ternyata digitalisasi ini sudah bisa berdampak positif dengan adanya kinerja bisnis yang tambah apik.
Salah satu solusi IT yang dikembangkan dan menjadi andalan PLNT adalah aplikasi SOE yakni Safety on Etential. Aplikasi ini dikembangkan pada tahun 2020 lalu untuk kalangan internal. “Ini aplikasi berupa digitalisasi safety awarness, sehingga dengan adanya aplikasi ini membuat tingkat kecelakaan benar-benar berkurang. Karena sebelum ada pengerjaan proyek, semua security-nya sudah ada di aplikasi, sehingga lebih aman,” ujar Suko.
Aplikasi SOE ini, disebut dia, memiliki fitur unggulan yakni berupa Generate Hiracs, JSA & WP. Dengan manfaat atau dampak untuk perusahaan adalah berupa Single Data, Single Source & Security Awarness.
“Aplikasi ini sangat membanggakan. Bahkan bisa menjadi acuan ke perusahaan lain. Dengan aplikasi ini, dengan adanya tenaga kerja alih daya (sebanyak 17.000 orang) yang tersebar di seluruh Indonesia Timur dibutuhkan pengawasan dan pemantauan terkait Keselamatan Kerja (K3) secara efektif dan efisien. Nah aplikasi ini jadi sangat begruna. Ini untuk mewujudkan zero accident, salah satu upaya yang dilakukan adalah Digitalisasi Safety Awareness dengan melalui Aplikasi SOE (Safety on Etential) ini,” tutur dia.
Selain aplikasi tersebut, ada juga aplikasi Teams yaitu Tarakan Enterprise Activity Management Solution). Yang dikembangkan tahun 2021 lalu berupa digitalisasi proses bisnis di PLNT untuk kalangan internal.
Dengan fitur unggulanya adalah bisa mengetahui proses bisnis PLNT dari hulu ke hilir (jadi aplikasi ini seperti ERP). Sehingga bermanfaat untuk Single Data, Single Source & Single Application.
Selanjutnya juga ada aplikasi Monitoring Ground Patrol yang dikembangkan pada 2020 lalu. Ini berupa aplikasi Monitoring Ground Patrol Tower SUTT Kelistrikan. Dengan keunggulan sebagai upaya preventif gangguan kelistrikan dan berdampak positif ke perusahaan berupa zero downtime system kelistrikan.
Kemudian ada aplikasi Matrik yaitu penyampaian invoice pelanggan yang diimplmenetasikan tahun lalu untuk pegawai perusahaan. Aplikasi ini berupa penyampaian invoice pelanggan termonitor setiap harinya dengan fitur unggulannya adalah generate invoice and mapping customer. “Ini manfaatnya untuk pemetaan pelanggan yang menunggak dan Big Data Pelanggan,” katanya.
Membangun Digital Culture
Dalam rangka trasformasi digital di PLNT, perusahaan juga mengembangkan budaya digital (digital culture) di kalangan karyawan. Dan untuk memuluskan proses digital culture ini perusahaan melakukan penerapan digital mindset di perusahaan dan implementasi SSoT (Single Source of Truth) untuk aplikasi.
Hal ini sudah masuk ke dalam master plan IT PLN Tarakan untuk periode tahun 2020 hingga 2024 nanti. Dengan fase yang dilaluinya adalah mulai dari pengembangan data center sampai pengembangan big data di tahun 2024. Untuk tahun 2020 yang merupalan fase pembangunan data center, sudah dilakukan pegadaan data center, instalasi server, instalasi firewell, dan instalasi ATS & genset.
Lalu di tahun 2021 dalam fase digitalisasi proses bisnis sudah dilakukan SSoT, migrasi Cloud ke DC, update web service, pengelolaan helpdesk, dan IT maturity level 2.
Di tahun 2022 memasuki fase security system yaitu SSoT, implementasi WAF, pembangunan DRC, update web service, IT maturity level 2,25, dan implementasi SAP.
Selanjutnya di 2023 masuk fase microsystem, yakni akan dilakukan micro system, EAM transmisi, EAM pembangkit, dan IT maturity level 2,5. “Dan master plan di 2024, akan masuk fase Big Data dengan melakukan big data improvements, data analytics, dan IT maturity level 3,0,” pungkas Suko.














