Jakarta, ItWorks- Bidang usaha jasa transportasi, cargo delivery and logistics system, menghadapi tantangan baru yang kian kompleks di era digital yang sarat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Tak cukup hanya melakukan transformasi, para pelaku usaha juga dituntut lebih kreatif menciptakan inovasi dan terobosan baru, agar bisnisnya bisa terus berkembang dan berdaya saing tinggi melalui transformasi digital business .
Belakangan ini, digital life style (gaya hidup digital), kian lekat dengan keseharian masyarakat. Hampir semua aktivitas sehari-hari, tak lepas dari penggunaan teknologi informasi dan digitalisasi. Mulai dari belanja berbagai kebutuhan melalui e-commerce atau online store, pemesanan layanan transportasi melalui aplikasi online, payment system dengan produk fintech (financial technology), dan berbagai tren baru lainnya yang kian kental dengan digitalisasi.
Tren baru dari era digital technology, di satu sisi juga telah mendisrupsi banyak bidang usaha konvensional. Seperti usaha transportasi kovensional yang tergerus pasarnya oleh layanan aplikasi transportasi online, toko kovensional tergeser online store dan e-commerce, layanan financial oleh bisnis model fintech, serta beberapa bidang lainnya. Begitu juga dengan kebutuhan gaya hidup lainnya, dapat dengan mudah dibeli, bayar cukup dengan ponsel pintar dan koneksi internet, yang dahulunya mungkin tak pernah terpikirkan. Fenomena ini kian sulit dibendung yang juga berdampak luas terhadap dunia usaha.
“Kami juga mencermati tren perubahan itu. Tetapi saya tetap optimistis, karena yang namanya bisnis pengiriman barang dan penanganan logistics, sampai kapan pun tak akan pernah tergantikan. Proses pengiriman barang secara fisik, tetap harus terjadi. Tidak bisa sim sala bim, kemudian tiba tiba barang sampai di tujuan. Jadi proses pengiriman barang secara fisik untuk delivery-nya, tetap terjadi. Berbeda misalnya dengan e-commerce yang bisa dilakukan online, termasuk transaksi pembayarannya. Setelah itu, fisik barang yang dibeli, tetap harus dikirim. Justru ini peluang bagi bisnis logistics dan pengiriman seperti kami ini. Tantangannya adalah bagaimana teknologi informasi bisa meningkatkan performa layanan pengiriman dan logistik agar makin efisien, dan on time delivery. Inilah yang jadi konsen kami untuk mengakselerasi melalui transformasi digital dalam usaha ini,” ungkap Direktur PT Jasa Berdikari Logistics (JBL), Dimas Mulyanto saat presentasi dan wawancara penjurian “Top Digital Awards 2019” yang diselenggarakan oleh Majalah ItWorks bekerjasama dengan konsultan dan sejumlah asosiasi TI & TELCO yang berlangsung (31/10), di Gedung WTC I, Jl Jend, Sudirman, Jakarta.
Dalam kesempatan itu juga turut hadir mendampingi saat presentasi, yakni Budi Santoso, selaku Manager IT PT JBL. Presentasi dan wawancara penjurian selama sekitar 75 menit berlangsung interaktif di hadapan tiga tim dewan juri dengan materi presentasi bertema komitmen dan transformasi digital JBL “Beyond Logistics JBL 2020”.
Dikatakan, selain pasar konvensional, gairah e-commerce, belanja online, juga menambah kue pasar bisnis pengiriman barang. Apalagi ditopang dengan meningkatnya digital life style (gaya hidup digital) di tengah masyarakat yang menuntut segala sesuatunya menjadi lebih cepat, simple, dan transparans yang bisa dikendalikan dari gadget atau perangkat digital yang ada dalam genggaman tangan. Saat mereka belanja on line misalnya, sudah pasti berharap agar barang yang dibeli, cepat sampai di tangan.
“Justru ini peluang dan tantangan yang harus disikapi oleh perusahaan logistic dan layanan delivery. Di negara maju, sudah terjadi yang namanya pengiriman barang dengan drone yang dilengkapi aplikasi digital. Begitu juga trucking untuk pemindahan barang dari satu titik ke lokasi lain dengan armada truck tanpa sopir (driverless) yang dilengkapi aplikasi digital, internet of things (IoT) dan sejenisnya. Hal-hal seperti inilah yang ke depan harus dipikirkan oleh perusahaan logistics dan pengiriman di Indonesia. Makanya kami juga punya big dreams (impian besar) dan komitmen kuat untuk mengarah ke sana melalui transformasi digital dengan membangun aplikasi dan inovasi berbasis teknologi digital dalam logistics system ini. Mulai 2020 kami perkuat digitalisasi untuk menjadikan JBL Technology Base Transportation Company,” ujarnya.
Mengoperasikan sekitar 300 armada truk, saat ini selain melayani pengiriman logistic di wilayah Jabodetabek dan kota di pulau Jawa, JBL juga sudah merambah pasar luar Pulau Jawa, di antaranya kota-kota di Sulawesi dengan base di Makassar, dan Kalimantan Timur dengan base di Samarinda.
Berawal dari lima armada dengan pelanggan corporate PT Sharp Electronics dan Alfamidi, untuk akselerasi perusahaan yang didirikan oleh James Budiarto ini juga sudah mulai melangkah untuk go digital, dengan membangun system aplikasi berbasis digital melalui program “JBL Innovation”. Di antaranya membangun aplikasi ILOS (JBL Integrated Logistic System) yang bisa memantau pergerakan seluruh armada, termasuk tracking system dengan perangkat mobile phone. “Aplikasi ini tidak terlalu mahal, tetapi tepat guna,” ujarnya.
Aplikasi lain, yakni OWA (Optimus Warehouse Automation), terutama untuk mendukung layanan pergudangan. Dibangun untuk memudahkan sistem manajemen dengan aplikasi yang simple untuk memenuhi kebutuhan lokal. Sistem ini terinterasi antara warehouse management system dengan transporter (pengangkut barang) secara real time. Dengan aplikasi ini, pertukaran data dan inforamasi bisa less paperwork, terintegrasi dengan system billing dan invoicing, sehingga bisa mendukung go green dan menghemat biaya dari penggunaan kertas.
Selain itu juga sedang membangun aplikasi untuk layanan kurir kendaraan roda dua dengan system apikasi bernama AGD (Active Guided Delivery). Hal ini dilatarbelakangi banyaknya pengiriman kartu kedit kepada pelanggan yang tidak tekirim ke penerima karena metode pengiriman konvensional. Seringkali kartu kredit tidak sampai atau gagal, karena kurir tidak bisa ketemu langsung dengan pelanggan (penerimanya). Dengan aplikasi ini, kurir akan dipandu dan dipantau real time dari pusat kendali (Delivery traffic controller), termasuk konfirmasi ke penerima yang bisa terhubung dengan aplikasi. Sehingga barang bisa cepat ditangan dan waktu yang digunakan untuk pengiriman juga bisa lebih optimal.
“Pada aplikasi ini ada fitur electronic delivery confirmation, jadi penerima bisa langsung konfirmasi bahwa kiriman sudah diterima yang bisa dilakukan melalui aplikasi dari perangkat yang dibawa kurir. Sehingga semua bisa terlacak real time dan tidak ada lagi istilah manipulasi data. Ini akan memudahkan pekerjaan kurir sekaligus meningkatkan kepercayaan untuk layanan pelanggan. Ke depan, banyak inovasi baru yang kami kembangkan. Dengan tinggal landas di 2020, JBL dan segenap manajemen dan karyawan akan mengalami beberapa akselerasi dengan transformasi di segala hal. Sumber daya manusia (SDM), proses bisnis, dan inovasi teknologi,” tandasnya. (AC)














