Penulis: Nurdian Akhmad
Kendati banyak menyasar segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) khususnya di sektor pertanian, PT Bank Perkreditan Rakyat Jawa Timur atau Bank UMKM Jatim sangat serius melakukan transformasi digital. Sekitar 30 persen portofolio kredit Bank UMKM Jatim saat ini menyasar sektor pertanian.
Berbagai solusi bisnis teknologi informasi (TI) dikembangkan bank BUMD milik pemerintah daerah di Provinsi Jawa Timur ini. Solusi TI terbaru yang diimplementasikan Bank UMKM Jatim untuk eksternal antara lain virtual account, cash pick up, Top Up E-Money, kredit online, serta bermitra dengan financial tecnology (fintech).
“Untuk memudahkan nasabah dalam bertransaksi, solusi terbaru yang diimplementasikan kami tahun ini adalah virtual account. Ini sudah clear izinnya di OJK. Ini bisa mengubah pola marketing kita, ada layanan transfer in dan out-nya. Layanan virtual account ini dapat diakses melalui smartphone maupun PC,” kata Direktur Utama Bank UMKM Jatim Yudhi Wahyu dalam penjurian TOP DIGITAL Awards 2021 yang dilakukan secara virtual, kemarin.
Terkait layanan virtual account ini, Bank UMKM Jatim sudah melakukan kerja sama dengan sejumlah bank umum nasional seperti Bank BCA, Bank Mandiri, Bank Permata, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, Bank BRI, BSS, Hanabank, dan Bank BNI.
Adanya layanan tersebut, kata Yudhi, memudahkan dalam pemasaran produk dan layanan Bank UMKM Jatim. “Kita siap pasarkan ke seluruh Jawa Timur. Pasarnya luar biasa, kita gandeng sekolah-sekolah, terutama pelajar dan guru,” tutur dia.
Solusi bisnis TI untuk eksternal adalah kredit online. Fitur layanan ini diimplementasikan Bank UMKM Jatim sejak 2019. Nasabah yang ingin mengajukan kredit dapat melakukannya kapan saja dan di mana saja melalui smartphone maupun PC.
Bank UMKM Jatim juga sudah memiliki mengimplementasikan layanan Top Up E-Money sejak 2020. Fitur ini memberikan manfaat pelayanan kepada nasabah untuk Top Up Saldo E-money melalui ATM Bank UMKM Jatim.
“Kita harapkan pendapatan nonkredit bisa meningkat dari Top Up E-Money, pembayaran tagihan-tagihan secara online seperti pembayaran listrik, PDAM, tagihan telepon, BPJS melalui QRIS. Saya masih berusaha untuk labelnya langsung Bank UMKM, dan masuk rekening Bank UMKM, tidak melalui bank lain,” ujar Yudhi.
Sedangkan aplikasi internal yang diimplementasikan Bank UMKM Jatim antara lain Sistem Monitor Surat Masuk, Aplikasi SATU, Web Server Pusat, Aplikasi Portal SDM, Dagulir, Aplikasi Monitoring Transaksi Keuangan, Sistem Penempatan Dana, Sistem Penagijhan Kredit, Website Kredit Onlin, Sistem Kolektif Nasabah Dana, Sistem Monitoring Asuransi Kredit, dan Sistem KPI.
Tantangan Digitalisasi Kredit Sektor Pertanian
Dalam transformasi digital ini, menurut Yudhi, ada sejumlah tantangan yang dihadapi Bank UMKM Jatim yang selama ini banyak membidik sektor pertanian. Saat ini, kata dia, sekitar 90 persen petani belum tersentuh teknologi informasi. Padahal potensinya sangat besar dan termasuk sektor yang tahan banting dari dampak pandemi covid-19.
Tingkat kredit macet untuk sektor pertanian juga cukup rendah, hanya 1,2 persen di Bank UMKM Jatim. Sebab itulah, bank-bank umum nasional setelah pandemi ini mulai banyak masuk ke sektor pertanian.
“Masalah pertanian itu lebih kepada modal kerja. Alhamdulillah NPL kita di pertanian itu hanya 1,2 persen, jadi sangat bagus. Untuk penetrasi pasar baru, masih banyak potensinya apalagi sekarang mulai banyak petani yang pakai smartphone,” tutur Yudhi.
Sebab itulah, Bank UMKM Jatim sedang mengembangkan aplikasi untuk kredit online sektor pertanian. Rencananya pada 5 Desember 2021 mendatang pihaknya akan melakukan pelatihan tentang penggunaan aplikasi untuk kredit pertanian ini.
“Selama ini pendekatan personal kita dengan petani itu yang jadi andalan kami. Tapi ini tidak bisa terus menerus karena ketika jumlahnya semakin besar maka akan banyak kendala, risiko ketika ngansur, juga jika nasabah jauh dari kantor operasional Bank UMKM. Karena itu, ini harus didukung teknologi,” ujarnya.
Untuk lebih mengakselerasi operasional dan layanan perusahaan, Bank UMKM Jatim sedang menunggu keluarnya peraturan daerah Provinsi Jawa Timur tentang penambahan penyertaan modal kepada BUMD ini dari Rp 500 miliar menjadi Rp 1,6 triliun. “Setelah paripurna Perda selesai, duit bisa masuk ke Bank UMKM. Itu akan mengakselerasi UMKM, termasuk BUMDes-BUMDes di Jawa Timur,” ujar dia.
Bank UMKM Jatim telah mengubah misi perusahaan dengan menambah kata digital untuk mendukung digitalisasi di perusahaan. Jadi, misi BUMD ini sekarang adalah ikut berperan dalam pertumbuhan perekonomian Jawa Timur melalui pengembangan UMKM utamanya sektor pertanian dan sektor perekonomian lainnya serta meningkatkan layananberbasis digital.
Bank UMKM Jatim juga menambah porsi anggaran TI dari tahun 2020 lalu sebesar Rp 6,687 miliar atau 29,92 persen dari laba bersih, menjadi Rp 13,98 miliar atau 51,2 persen dari laba tahun 2021 ini. Berdasarkan laporan Bank UMKM, total laba Bank UMKM Jatim pada 2020 mencapai Rp 22,346 miliar, sedangkan target perolehan laba tahun ini sebesar Rp 27,308 miliar.
Dari sisi sumber daya manusia (SDM), Bank UMKM tahun 2021 ini juga menambah karyawan tetap bagian TI dari 9 orang pada 2020 menjadi 25 orang. “Kita juga sedang rekrut karyawan TI level medium sampai staf. Ini karena isu security menjadi isu utama, agar sistem TI kita bisa aman,” kata Yudhi kepada dewan juri.














