ItWorks.id-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi tuan rumah penyelenggaraan 2026 Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) Workshop on Research Reactor Utilization (RRU) Project. Acara ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama teknis dan berbagi pengalaman di tingkat regional terkait pemanfaatan reaktor riset.
Keterlibatan BRIN sebagai penyelenggara menegaskan posisi strategis Indonesia dalam ekosistem riset nuklir global. Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menyatakan fasilitas reaktor riset dan laboratorium analisis nuklir BRIN merupakan platform yang terbuka.
“Fasilitas reaktor riset dan laboratorium kami menyediakan platform untuk penelitian, pengembangan sumber daya manusia, layanan analisis, dan kolaborasi dengan universitas, institusi pemerintah dan industri, serta pengguna lainnya,” katanya, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, (15/9) yang dirilis melalui portal web BRIN baru-baru ini.
Amarulla menekankan nilai sebenarnya dari pemanfaatan reaktor riset terletak pada kemampuannya menjawab kebutuhan nyata masyarakat, seperti di bidang kesehatan, lingkungan, pangan, pertanian, hingga pelestarian cagar budaya.“Bagi Indonesia, keterlibatan kami di FNCA lebih dari sekadar berbagi apa yang telah kami capai. Ini juga tentang belajar dari satu sama lain, memperkuat kemitraan, mengembangkan kapasitas regional, dan mengubah pengetahuan kolektif kita menjadi kerja sama praktis yang dapat membawa manfaat nyata bagi negara-negara kita dan kawasan ini,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Koordinator dari Jepang untuk FNCA, Tamada Masao, menyoroti fungsi esensial reaktor riset yang kian berkembang. Ia merujuk pada dua aplikasi utama, yaitu produksi isotop medis dan neutron activation analysis (NAA).“Isotop medis memainkan peran penting dalam diagnostik, pencitraan, dan terapi kanker, dan permintaan-permintaan baru terus bermunculan di bidang ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Tamada menjelaskan teknik NAA kini menarik perhatian besar untuk menganalisis sampel langka, mulai dari batuan asteroid hingga benda cagar budaya.“NAA telah menarik perhatian besar pada analisis sampel-sampel yang langka dan berharga, termasuk material ekstraterestrial yang dikumpulkan dari asteroid, serta material cagar budaya saat ini, seperti fosil,” jelas Tamada.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, kolaborasi internasional di kawasan Asia menjadi sangat krusial. Oleh karena itu, FNCA ini menjadi wadah strategis bagi negara-negara anggota untuk merumuskan arah potensi tersebut akan dikembangkan.
Pertemuan ini dihadiri secara hybrid oleh delegasi dari Indonesia, Tiongkok, Jepang, Kazakhstan, Malaysia, Mongolia, Thailand, dan Vietnam yang hadir secara langsung, serta perwakilan dari Australia, Bangladesh, Korea Selatan, dan Singapura yang bergabung secara daring.














